Selasa, 30 Juni 2009

Aksi Peduli


Tampak Kader Anti Narkoba Tahun 2008 Novita Chandra Wijaya sedang menempelkan stiker gerakan anti narkoba pada kendaraan yang melintas di Jalan Yos Sudarso Palangkaraya pada tanggal 26 Mei 2009 dalam rangka peringatan Hari Anti Narkoba Internasional

KAN dapat penghargaan


Kader Anti Narkoba Provinsi Kalimantan Tengah mendapat penghargaan dari Badan Narkotika Nasional yang diserahkan oleh Ketua Badan Narkotika Provinsi Kalimantan Tengah Ir.H.Achmad Diran dalam rangka Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional pada tanggal 29 Juni 2009 atas perannya ikut serta penanggulangan Narkoba di kalangan remaja. Pada kesempatan tersebut, penghargaan diterima langsung oleh Ketua Kader Anti Narkoba Kalteng Heru Setiawan S.P.

Jumat, 26 Juni 2009

Sinetron "Kenikmatan Semu"

Pembuatan sinetron berjudul "Kenikmatan Semu" akhirnya selesainya juga. Sinetron ini mengangkat kehidupan seorang remaja pria yang dikelilingi oleh banyak permasalahan. Untuk mengatasi masalahnya remaja ini melarikannya dengan mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Padahal, dengan mengkonsumsi obat-obat terlarang tersebut justru menambah masalah dalam hidupnya. Sekolahnya mulai berantakan, teman-teman sekolah mulai menjauhinya. Hingga pada akhirnya dia menjadi seorang pecandu berat yang hidupnya diperbudak oleh Narkoba tersebut, dia bahkan tidak mengindahkan lagi keberadaan orang tuanya. Diakhir cerita ini dia harus menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa karena secara psikologis dia telah terganggu.
Sinetron ini merupakan kerjasama berbagai pihak yaitu: BNP Kalimantan Tengah, TVRI Kalimantan Tengah, Kader Anti Narkoba Kalteng.
Semoga dengan sinetron ini dapat memberikan pencerahan bagi kita tentang bahaya NARKOBA sehingga kita akan selalu menjauhkan NARKOBA dari kehidupan Kita.

Rapat Persiapan Peringatan HANI Tahun 2009

Pemberian Hadiah Kepada Duta Anti Narkoba terpilih


Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Ir.H.Achmad Diran yang juga selaku Ketua BNP Kalimantan Tengah memberikan Piala dan Hadiah Kepada Duta Anti Narkoba Tahun 2009, Rigas Boboy untusan BNK Kota Palangkaraya untuk Putera dan Bela Santa Rosi utusan BNK Barito Timur untuk Puteri pada acara penutupan Pemilihan Duta Anti Narkoba tahun 2009 di Auditorium RRI Palangkaraya.

penyematan tanda peserta Pemilihan Duta Anti Narkoba Tahun 2009


Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Ir.H.Achmad Diran yang juga selaku Ketua BNP Kalimantan Tengah, menyematkan tanda peserta kepada Rigas Boboy dan Bela Santa Rosi pada pembukaan Pemilihan Duta Anti Narkoba Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2009 bertempat di Aula Majar Tabela Dinas Sosial Kalteng.

Minggu, 21 Juni 2009

Duta Anti Narkoba Putra Tahun 2009

Pemilihan Duta Anti Narkoba Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2009

Acara pemilihan duta antinarkoba Provinsi Kalimantan Tengah berlangsung pada Kamis (14/5). Wagub Kalteng Achmad Diran dan juga selaku Ketua Badan Anti Narkotik Provinsi membuka kegiatan yang berlangsung di Panti Sosial Bina Remaja Majar Tabela, Jalan Rajawali, Palangkaraya,.

Grand Final pemilihan yang dilaksanakan Sabtu di auditorium LPP RRI Palangkaraya. Pemilihan Duta Antinarkoba Kalteng tersebut terkait kampanye sosial dalam rangka hari antinarkoba Indonesia 14 Mei dan Hari Anti Narkoba Internasional pada tanggal 26 Mei 2009.

Acara yang dihadiri puluhan hadirin tersebut mengambil tema "Menggali Potensi, Memacu Prestasi, Mengangkat Budaya, Hharkat, dan Martabat bangsa di bumi Tambun Bungai tanpa narkoba."

Kegiatan Pemilihan Duta Anti Narkoba Provinsi Kalteng tahun 2009 ini diselenggarakan Kader Anti Narkoba (KAN) Provinsi Kalteng yang didukung Badan Narkotika Provinsi (BNP) Kalteng dan donatur, sponsor, serta partisipan.

Semestinya acara pemilihan diikuti 30 peserta, yaitu masing-masing dua utusan dari Badan Narkotika 14 kabupaten/kota serta Badan Narkotika Provinsi Kalteng. Hingga acara dibuka hanya beberapa BNK yang mengirim wakilnya, yakni masing-masing dua orang dari Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya. Sebelum grand final pemilihan, para peserta menjalani masa karantina di Asrama PSBR Majar Tabela selama tiga hari. Kegiatan selama masa karantina antara lain panel diskusi/lokakarya, pelatihan penyuluh bahaya narkoba, pembinaan kepribadian dan pengembangan diri, pembicara publik (public speaking), apresiasi budaya dan pariwisata, kunjungan ke kantor media dan lembaga penyiaran publik, serta aksi sosial/kampanye simpatik No Drugs : Your life, your community. No Place for Drugs.

80 Persen Penyalahgunaan Narkoba pada Usia 15-39 Tahun

Jumat, 19 Juni 2009 23:23 WIB

Jakarta (ANTARA News) - Sekitar 80 persen 3,2 juta orang penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya (narkoba) adalah usia 15-39 tahun, sehingga jika dibiarkan, Indonesia akan kehilangan generasi (lost generation), kata Direktur Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban Penyahgunaan NAFZA Depsos Max H Tuapattimain.

Max mengemukakan hal tersebut dalam Diskusi Forum Wartawan Sosial (Forwasos) di Jakarta, Jumat sore, yang menghadirkan pembicara Ketua P4GN Badan Narkotika Nasional (BNN) Drs Yudi Kusmayadi dan dipandu Staf Ahli Mensos, Gunawan Sumodiningrat.Menurut Max, NAFZA atau narkoba merupakan masalah internasional yang memunculkan komitmen global, regional, nasional dalam penanganannya dan dampaknya antara lain menyangkut sosial, ekonomi dan kesehatan."Penyalahgunaan Narkoba menyangkut aspek bio-psikososial dan spiritual, sehingga membutuhkan penanganan yang komprehensif dan jangka panjang," katanya.Sementara kondisi dan permasalahan narkoba, antara lain penyalahgunaan narkoba sebagai disfungsi sosial yang memerlukan upaya pengubahan perilaku serta pecandu perlu dipulihkan agar tidak menjadi beban sosial ekonomi keluarga, masyarakat dan negara serta diharapkan menjadi insan yang berguna, produktif dan hidup normatif.Depsos mengeluarkan kebijakan dalam pemulihan penyalahgunaan narkoba, yakni meningkatkan dan memperluas jangkauan pelayanan dan rehabilitasi sosial korban narkoba, meningkatkan partisipasi dalam pelayanan dan rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan narkoba yang berbasis masyarakat, serta meningkatkan koordinasi intra - inter instansi pemerintah terkait, serta meningkatkan profesionalisme sarana dan prasarana pelayanan.Program penanganan masalah penyalahgunaan narkoba oleh Depsos meliputi pencegahan, rehabilitasi sosial, pembinaan lanjut (after care), kelembagaan, perlindungan dan advokasi sosial.Sementara itu, Ketua P4GN BNN Yudi Kusmayadi mengatakan, hasil penelitian terjadi kenaikan penyalahgunaan narkoba dari 1,5 persen penduduk Indonesia pada 2004 menjadi 1,9 persen pada 2008. Pertambahan jumlah penyalahgunaan narkoba sebagian besar berasal dari pecandu yang sembuh, namun kambuh kembali dan penyebaran sudah sampai di tingkat desa/kelurahan se-Indonesia.(*)

Rabu, 17 Juni 2009

Narkoba Merambah Pedesaan

PULANG PISAU - Peredaran Narkoba yang telah rambah daerah pedesaan di Kabupaten Pulang Pisau dan untuk menjaga generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkoba sehingga perlunya segera dibentuk Kader Anti Narkoba (KAN) di Kabupaten Pulang Pisau. Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Pulang Pisau sekaligus Ketua Badan Narkotika Kabupaten H Edi Pratowo ketika menerima Pengurus KAN Provinsi Kalimantan Tengah, Selasa (23/12).
"Karena peredaran narkoba ini sudah sampai daerah pedesaan maka perlunya penyuluhan sejak dini secara gencar. Dan saya akan menindak lanjuti surat dari bapak wakil gubernur selaku ketua BNP untuk membentuk Kader Anti Narkoba di Kabupaten ini", ujar ketua BNK yang didampingi Wakapolres Pulang Pisau sekaligus Kepala pelaksana harian BNK Pulang Pisau Kompol Andi Nurwandy, SIK.
Sementara itu Ketua Kader Anti Narkoba Propinsi Kalimantan Tengah (KAN Kalteng), Heru Setiawan, SP. mengatakan bahwa Kabupaten Pulang Pisau yang merupakan daerah transit pintu gerbang lalu lintas antara Kalteng dan Kalsel merupakan daerah yang rawan terhadap peredaran dan penyalahgunaan narkoba. "Sebagaimana kita ketahui, Banjarmasin merupakan sepuluh besar penyalahgunaan narkoba se Indonesia, sehingga kita harus bahu-membahu dan bersinergi untuk bisa mencegah masuknya narkoba ke wilayah Kalteng," ujar heru yang didampingi beberapa pengurus KAN Provinsi
"Dari hasil pertemuan tersebut, terungkap bahwa peredaran narkoba telah rambah kedaerah pedesaan. sehingga perlunya pembentukan Kader Anti Narkoba di Kabupaten tersebut", ungkap heru seraya mengatakan bahwa pembentukan kader anti narkoba ini juga berdasarkan surat Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, nomor 264/I-12/KESRA/2008 tentang Pembentukan Kader Anti Narkoba se Kabupaten /Kota se Kalimantan Tengah.
Dengan dibentuknya KAN kabupaten, diharapkan sebagai ujung tombak dalam mensosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkoba dan pentingnya hidup sehat. "Dibentuknya KAN Kabupaten, bertujuan dengan terbinanya kader yang memahami dan mengerti bahaya penyalahgunaan narkoba dan pentingnya hidup sehat akan mampu memberikan nilai positif bagi masyarakat," pungkas Ketua KAN Propinsi

KAN Juga Dibentuk di Kapuas
Mengingat Kabupaten Kapuas merupakan pintu gerbang dan perbatasan Propinsi Kalteng dan Kalsel, sehingga diperlukan filter bagi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Hal ini, dikarenakan menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), Banjarmasin merupakan daerah peredaran narkoba sepuluh besar se Indonesia.
"Untuk menjaga generasi muda dari bahaya narkoba, maka kita harus bersinergi untuk memerangi penyalahgunaan narkoba ini, salah satunya dengan akan dibentuknya KAN Kabupaten Kapuas sesuai dengan surat dari Wakil Gubernur selaku Ketua BNP," kata Wakil Bupati Kapuas selaku Ketua BNK Ir. Suraria Nahan, ketika menerima pengurus KAN Propinsi Kalteng. Ketua BNK Kapuas juga menambahkan akan segera membentuk KAN Kabupaten dan direncanakan pelantikannya pada saat HUT Kabupaten Kapuas tahun 2009.

Belum Saatnya Kalteng punya Panti Rehabilitasi

Palangka Raya - Untuk saat ini, Kalimantan Tengah belum waktu yang tepat untuk segera membangun pusat panti rehabilitasi pengguna narkoba. Hal ini dikemukakan oleh Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Doris Sylvanus, dr. Suprastija Budi, ketika menerima Pengurus Kader Anti Narkoba Propinsi Kalimantan Tengah (KAN Kalteng), Senin (22/12).
"Kita bisa memanfaatkan Gedung Balai Jiwa Kalawa Atei. Toh selama ini balai tidak termanfaatkan dengan baik," ujar dr. Suprastija Budi, yang juga pembina KAN Kalteng. Ditambahkannya, balai jg mempunyai dokter yang berkompeten untuk penanganan rehabilitasi pengguna narkoba. Misalnya saat diperlukan amphetamin, hanya dokter yang berhak mengeluarkan. Dr. Suprastija Budi juga menambahkan bahwa penanganan pada pengguna narkoba lebih baik dengan cara prefentif-promotif, bukan dengan cara represif. "Strategi represif hanya akan menghasilkan efek jera yang sementara. Misalnya pengguna kita penjara, bisa menyebabkan efek negatif yang berkelanjutan. Didalam sel dia ketagihan, dia pasti akan berusaha mencarinya. Berdasarkan data-data yang ada, menunjukan bahwa dibanyak penjara terjadi peredaran narkoba," ujar dr. Suprastija Budi lagi. Harusnya pengedarnya saja yang dimasukan penjara.
Harus disadari bersama bahwa penyalahgunaan narkoba yang berhasil diungkap hanyalah merupakan fenomena gunung es. Hanya sedikit yang terungkap, dan sangat banyak yang belum terungkap. Oleh karena itu, harus diantisipasi sejak dini dengan melakukan program-program yang prefentif-promotif. Misalnya, dengan penyuluhan. "Penyuluhan juga harus mengena dan sesuai dengan target sasaran, karena kadang-kadang penyuluhan hanya seremonial saja," tambah dr. Suprastija Budi. Dalam penyuluhan, kita mesti melihat siapa yang akan disuluh agar lebih mengena dan tepat sasaran.
Strategi apa yang tepat untuk penanggulangan penyalahgunaan narkoba adalah dengan pendekatan personal, bukan pendekatan birokratif, penyuluhan sejak dini, dan juga prefentif-promotif.

KAN Kalteng
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum KAN Kalteng, Heru Setiawan, SP. menjelaskan bahwa program-program KAN Kalteng
juga sudah mengarah ke strategi-strategi yang diungkapkan oleh dr. Suprastija Budi.
"Program-program KAN Kalteng lebih banyak kepada program prefentif-promotif. Misalnya penyuluhan-penyuluhan ke sekolah-sekolah dengan penyuluh dari generasi muda yang sudah dilatih'" ujar Heru Setiawan, SP. Dengan penyuluh yang masih muda, diharapkan peserta penyuluhan tidak akan bosan dan tidak merasa digurui.
Sedangkan program-program KAN Kalteng untuk tahun 2009 mendatang, disamping mengadakan penyuluhan-penyuluhan, juga akan mengadakan pemilihan Duta KAN tingkat propinsi, pembuatan sinetron tentang bahaya narkoba bekerjasama dengan TVRI Kalteng, pelatihan kader, pembentukan KAN di tingkat kabupaten, dan lain-lain. (AHMAD SYARIF)

Selasa, 16 Juni 2009

Kunjungan KAN Kalteng ke Harian Kalteng Post

Terlewatkan

Banyak sudah yang telah ku lewatkan, tidak berpengaruh memang terhadap hidup ku..Namun mungkin ada hal yang paling sangat terlewatkan olehku....Beberapa waktu yang lalu aku singgah di sebuah tempat diantara penjalanku dari Sampit ke Palangkaraya, sebentar aku singgah di suatu tempat yang belakangan ini kurasakan semakin maju oleh menggeliatnya perekonomian masyarakat disana. Sebentar aku singgah dan menyapa seorang Bapak yang sedang asik dengan pekerjaannya. Percakapan kumulai dengan pujian-pujian atas majunya tempat itu, mulai dari jalan yang mulai mulus, bangunan-bangunan yang modern. Setelah beberapa pemebicaraan kami tak tahu arahnya, kucoba bertanya tentang keadaan anak-anak sekolah di tempat itu.
Jawaban Bapak itu bagaikan "Horor" di kepalaku. Betapa tidak dibalik kepolosan anak-anak disitu ternyata ada masalah besar yang menghampiri mereka. Modernisasi yang singgah di tempat itu ternyata membuat anak-anak di situ mulai terjangkiti penyakit-penyakit yang sangat membahayakan masa depan mereka. Suatu ketika Bapak tersebut memergoki beberapa anak sedang berkumpul sambil memegang sekaleng lem "Aibon" dalam keadaan fly setelah mengirup aromanya. Di lain tempat juga pernah dijumpainya anak yang mengkonsumsi obat sakit kepala di luar kewajaran, bahkan yang paling parah Beliau juga pernah menangkap basah sepasang pelajar berlainan jenis kelamin sedang berasik masyuk(SENSOR). Sungguh keadaan yang sangat yang tidak dapat kita terima.
Haruskah kita berdiam melihat hal itu..
Haruskah kita melewatkan hal itu...
betapa berdosanya kita jika membiarkan hal tersebut telah merambah anak-anak pedesaan yang polos...
Tak dapat dipungkiri memang kita telah terlalu banyak melewatkan. Pembangunan yang kita jalani membuat kita seringkali melewatkan hal-hal yang paling hakiki dalam pembangunan jiwa anak. Mental dan Spritual.
Apakah ini menjadi PR kita? (Tohang "Oblo" Emtoh)